Minggu, 23 Maret 2008

Tempat Tinggal di Jakarta

Sekedar cerita pengalaman saya tinggal di Jakarta mulai tahun 1993. Pertama ngontrak rumah di Cileduk (dekat Graha Raya-Bintaro), suami istri kantor di Sudirman. Hari-hari lewat Cileduk Raya, kadang lewat Karang Tengah, juga banyak jalan alternatif lain. Rata2 sekitar 1,5-2 jam perjalanan pergi dan pulang kantor, macet sepanjang cileduk raya. Musim hujan meskipun rumah nggak kebanjiran, tapi akses semua tertutup karena banjir, pernah nyampe rumah jam 12 malam krn banjir.
Pernah juga ngontrak di Cijantung Jakarta Timur, jarak jauh dan lewat tol, perjalanan ke kantor sekitar 1,5jam. Waktu itu tol cawang sering macet, nggak bisa cari jalan alternatif.Kemudian pernah beli dan tinggal di Bekasi Timur, ngantor bisa naik ojek mobil yang banyak mangkal di pintu tol, atau kalau bawa mobil sendiri juga bisa ngangkut penumpang dari situ ke sudirman (lumayan bisa untuk biaya bayar tol).
Baru 2 bulan tinggal di Bekasi, satu-satunya mobil kami jual untuk DP rumah di Jurangmagu (dekat Bintaro sektor IV). Karena tidak tahan dengan tol Cawang yang sering macet, belum lagi masih dihadang kemacetan di pintu tol jatibening. Saya sering menggerutu, sudah jauh, macet dan harus bayar tol lagi.Di Jurangmangu tinggal di perumahan kecil namanya Karya Indah (Jl. Cipadu Raya). Jarak ke kantor hanya 22 km, bisa lewat Kreo terus Cileduk Raya, atau lewat Bintaro terus Deplu atau Tanah Kusir. Total perjalanan kurang lebih sama karena macet, tapi tidak perlu bayar tol dan kalau sesekali lembur atau tidak bawa mobil, taxipun mau mengantarkan pulang dan nggak takut karena sepanjang perjalanan masih ramai, kendaraan umum juga banyak.
Tinggal di Cipete yang paling enak karena dekat kemana-mana dan lokasinya bagus, selama 5 tahun tinggal disana keenakan.Untung sadar, itu bukan rumah sendiri. Akhirnya beli tanah di daerah Lebak Bulus, setelah ada dana membangunnya sendiri.Oh ya pernah juga punya rumah di Pamulang Estate, meskipun tidak ditempati, tapi sering kesana untuk bersih-bersih. Kemacetan disepanjang Jl. Cirendue Raya.
Sekarang tinggal di Lebak Bulus. Kemacetan di Pondok Indah atau Jl. Fatmawati. Bisa juga lewat Jl. Ciputat Raya yang menuju ke Kebayoran Lama. Macetnya kurang lebih sama (kecuali yang di Cipete), hanya rasanya jaraknya lebih dekat karena yang dilewati keramaian, dan dekat dengan semua kebutuhan.
Kesimpulannya:
-Jarak ke Kantor dan Sekolah sangat penting, karena itu kegiatan rutin setiap hari-Hindari tempat tinggal yang lewat tol karena biaya operasional (bensin dan tarif tol) sangat tinggi. Selain itu, tol tidak menjamin bebas macet, sering tol macet dan kita stuck berjam-jam karena tidak ada jalan alternatif lain.
-Pasangan muda biasanya tergiur dengan sekolah bagus dan mesti mahal. Untuk anak2 yang masih kecil, TK sampai SD, menurut saya kurang perlu sekolah mahal, sehingga biaya sekolah mereka bisa dialihkan untuk menambah cicilan untuk mendapat rumah yang lebih dekat jaraknya. Pengalaman saya pribadi, anak saya pernah sekolah di SD di gang sempit (di Cijantung), pernah di SD Inpress (di Bekasi), pernah juga di SD Negeri (di Jurangmangu), tetapi ternyata bisa juga mengikuti pelajaran di SD dan SMP umum di Amerika, SMA di 70 dan sekarang kuliah di UI. Yang terpenting bagi anak-anak adalah sekolah yang dekat dengan rumahnya.
-Pasangan muda biasanya suka tinggal di komplek perumahan yang besar seperti BSD, Bintaro, Legenda Wisata, karena tergiur dg. fasilitas2, kolam renang, club house, dll. Kalau dipikir, fasilitas2 itu hanya sesekali saja dinikmati, paling2 kalau weekend, itupun masih kadang harus belanja, silahturahmi dll.Biasanya perumahan2 tsb, setiap weekend jalanan macetnya lebih parah.Sementara untuk bekerja sehari-hari juga harus melewati jarak yang jauh, lewat tol dan plus macet juga. Selain harga rumahnya sendiri sudah mahal karena kita ikut membeli infrastrukturnya.

Saran saya :
-Cari rumah sedekat mungkin dengan lokasi kantor, dan banyak terdapat pilihan sekolah yang bagus untuk anak-anak SMP ke atas (sekolah negeri yang bagus dan tidak mahal tidak banyak di daerah perumahan2 tsb).
-Tidak harus tinggal di perumahan besar, kenyataanya pergaulan dengan tetangga lebih sulit, dan sewaktu-waktu nggak punya pembantu bisa ruwet karena susah dapat tenaga sambatan.
-Sekarang banyak pilihan townhouse yang keamanannya terjamin tapi dekat dengan kota dan masyarakat sekitar.
-Harga 300-400jt, masih bisa dapat rumah sederhana dengan tanah 100-150m di daerah Cipete, Cilandak, Ciganjur dll. Bisa kemudian pelan-pelan di renovasi sesuai keinginan anda.
-KPR bisa juga untuk rumah second dengan surat2 yang jelas, jadi tidak harus rumah baru.
-Kalau kemampuan keuangan anda saat ini untuk mendapat rumah seharga 300jt, sebaiknya anda mencari yang seharga 400jt. Hanya 1-2 th pertama siap2 untuk gali lubang tutup lubang dulu, tahun ketiga biasanya sudah akan sesuai dengan kemampuan anda saat itu. Selebihnya bisa pelan-pelan renovasi dengan tambahan dana dari Bank.

Kebetulan saat ini saya sedang mencari rumah dengan kisaran hrg tersebut di atas, dan sudah banyak yang saya lihat di daerah Jakarta Selatan. Hanya karena tidak urgent maka saya belum menentukan pilihan karena belum ada yang sreg buat saya, tapi siapa tahu sreg untuk anda.Kalau informasi yang saya punya ada yang berminat, saya dengan senang hati membagi dengan anda. Semoga bermanfaat.

Selasa, 26 Februari 2008

ANAKKU, CINTAKU, MANJAKU, PUJAANKU...

Kata-kata itu yang sering kuucapkan ketika aku sedang 'ngudang' anak-anakku, terutama ketika mereka masih kecil. Ditya, Vidya dan Jibran. Aku melahirkan Ditya pada usia 23th, Vidya pada 32th dan Jibran pada usia 41th.

Betul, aku melahirkan anakku yang ke tiga di usia 41th, usia yang sudah tidak muda lagi untuk melahirkan. Phuii, teringat kembali bagaimana pada jam 1.00 dini hari perutku mulai terasa melilit dan aku melihat bercak pada baju dalamku darah pada saat ke toilet. It's time,kataku. Bergegas aku mengumpulkan tas-tas yang sudah aku isi seperlunya keperluan bersalinku. Baju2 daster, jarit, gurita dll. Juga tas yang berisi keperluan bayiku, baju2nya, popok, bedak dll. Oh ya tidak lupa selimut kecil untuk mendekap hangat jagoanku yang akan menemani hari-hariku di usiaku yang sudah di atas 40an.

Aku dan suami bergegas menuju RS yang jaraknya hanya sekitar 1 km dari rumahku. Di situ rupanya sudah ada kakak perempuanku dengan suami dan anaknya yang sudah menunggu. Darimana mereka tau? rupanya dari ibuku yang sesaat sebelum aku berangkat ke RS sempat aku telpon untuk minta do'a restu. Sementara Ditya dan Vidya aku minta tetap tinggal di rumah saja, setelah aku minta mereka untuk mendo'akan mamanya.

Aku dibawa ke ruangan khusus untuk menunggu waktu persalinan. Pikiranku campur aduk, bagaimna kalau aku nggak kuat? bagaimana anak laki-lakiku yang akan lahir ini? normalkah? lengkapkah? benar-benar laki-lakikah seperti hasil USG yang dikatakan oleh ginekologku? Diaantara rasa sakit yang makn kerap dan makin tinggi intensitas sakitnya, aku berusaha pasrah. NamaMu selalu kupanggil, Ya Allah, beri aku kekuatan untuk melahirkan anugrahMu ini ke dunia, Ya Allah, Ya Allah, Astagfirullah..Astagfirullah...sambil aku mohon ampun atas dosa-dosaku selama ini yang mungkin akan mempersulit proses melahirkan.

Ginekologku sempat menanyakan padaku saat kandunganku
berusia 8bl. Bagaimana aku ingin melahirkan, dengan operasi atau normal. Pertanyaan ini dilontarkan entah karena memang usiaku sudah termasuk usia resiko tinggi untuk melahirkan, ataukah hanya karena trend sekarang orang ingin melahirkan dengan cara operasi, sehingga bisa mengurangi rasa sakit pada waktu melahirkan. Aku ingat, pada waktu aku melahirkan anak yang ke dua dulu (ginekolognya sama), dia bahkan menolak saat aku menanyakan kemungkinan untuk melakukannya dengan operasi. Lalu kenapa sekarang dia malah menawarkan kemungkinan operasi? Dengan tegas aku menjawab, bahwa kalau bisa aku ingin dengan cara normal saja, supaya lengkap ketiga-tiganya aku lahirkan dengan cara normal.

Karena semangat itu, kali ini aku menikmati sekali rasa sakit yang ditimbulkan desakan bayiku yang ingin segera keluar, tiap waktunya, tiap menitnya. Sambil kuelus perutku yang buncit dan kubisikkan, adik...sabar yaa sayang, sebentar lagi kamu akan ketemu mama, sebentar lagi kamu akan melihat dunia ini sayangku.

Rasa sakitnya makin terasa, aku mulai keringatan, kepanasan dan hh..hh..., mengapa dokternya belum juga datang Sus, tanyaku ke suster yang menunggui. Dia menjawab kalau sudah menghubungi dokter dan sebentar kemudian akan segera datang. Suamiku juga mencoba menenangkan aku, dia elus punggungku yang wuiihh rasa sakitpun makin menjadi, diawali dari perut, kemudian terus melilit ke bagian bawah dan melingkar ke bagian belakang. Sehingga rasanya semua sumsum tulang belakangku seperti disedot oleh sedotan debu yang sangat kuat. Sakittt sekali.Ya Allah..Ya Allah, Astagfirullahaladzim,..Astagfirullahaladzim. Kadang diantara hitungan menit rasa sakit aku bisa terlelap tidur, saking sakitnya menguras tenagaku. Kali ini aku tidak bereriak-teriak menahan sakit,...seperti waktu melahirkan Ditya dan Vidya. Kali ini aku lebih pasrah...selain mungkin sudah tidak punya nafas lagi untuk berteriak.

Tiba-tiba suster datang untuk mengganti bajuku dengan baju untuk persalinan, dan kemudian aku dipindah dengan mendorong tempat tidurku ke ruang persalinan. Ruangannya besar sekali, tapi hanya ada satu tempat tidur khusus untuk persalinan dan seperangakat sofabed. Suami dan kakak perembuanku tetap ikut menunggui aku, sambil sekali-kali menghibur aku untuk berdo'a dan sabar. Dokterku sudah datang dan memeriksa kembali kondisi kesiapan persalinanku. Aku melihat wajahnya yang tanpa ekspresi seperti biasanya. Mungkin bagi dia, ini hanya salah satu persalinan diantara ratusan persalinan yang ditanganinya. Tapi bagi aku? ini persalinan ketigaku, dan ini persalinan yang akan memberiku anak laki-laki seperti yang aku do'akan selama ini.

Pada kesempatan naik Haji bersama suamiku, di depan Multazam aku khusuk berdo'a, Ya Allah,jika Kau mengijinkan, Aku ingin mempunyai anak lagi.Aku ingin mengandung lagi, Ya Allah, dan juga jika Kau mengijinkan, aku ingin anak itu laki-laki. Ya Allah, dengarkanlah do'aku. Aku tahu permintaanku waktu itu agak sedikit tidak mungkin mengingat usiaku yang tidak lagi muda. Tapi mintalah kau padaNya, bukankah Dia Maha Pemurah? Alhamdullilah..Subghanallah, sebulan aku pulang dari Makkah, aku sudah tidak mendapat menstruasi lagi. Aku hamil,...aku hamil, teriakku ketika aku melihat dua garis pada test pack untuk kehamilanku.

Kehamilan yang ketiga ini terasa begitu membuatku tidak berdaya, aku muntah-muntah tiap harinya, tidak mau makan apa-apa. Kondisi itu berlangsung sampai usia kandungan 7 bulan. Tiap hari aku hanya tinggal di atas tempat tidur, karena setiap kali aku turun aku akan limbung, puyeng dan kemudian muntah. Ngidam apa?? tanya teman-teman yang sempat menjengukku, aku nggak tau ngidam apa, rasanya gak kepingin apa-apa. Dulu awal-awal kehamilan sempat pingin rujak gobet buatan temanku. Setelah kuberitau dia, dengan senang hati aku dikirimin rujak gobet buatannya yang enak sekali. Aduh,..terima kasih banget ya telah susah payah membuatkan rujak gobet untukku dan kemudian mengantarkannya naik angkot, karena kami sudah tidak bertetangga lagi.

Kembali aku merasakan rasa sakit yang makin menjadi, Dok...saya sudah tidak kuat lagi ....kataku. Ugghh sakitnya, sakitnya, ampun ya Allah, kuatkan aku, kuatkan aku.Laa illah ha Illallah,..Laa illah ha Illallah,..aku panggil-panggil namaMu yang satu. Rasanya panas, aku megap-megap, napasku rasanya sudah putus, rasanya nggak kuat lagi. Dokter melihat keadaan itu segera memberi aku oksigen dan mengatakan harus memperbaiki kualitas sakitnya. Apa...? menurut dokter itu kurang sakit, sehingga tidak cukup kuat untuk maju dan merobek rahimku. Karena takut aku kehabisan napas dan tenaga, maka dokter memutuskan untuk segera menginduksi aku. Rasa sakit yang kurasakan ternyata makin hebat lagi, makin hebat dan, aku sudah tidak ingat semuanya lagi, suara suamiku, suara dokterku, suara kakak perempuanku, suara suster-suster yang membantu. Semua berdengung seperti lebah, aku tidak tau lagi, aku tidak ingat lagi. Yang aku ingat aku harus mengejan, sekuat tenaga, sekuat tenaga,...yak, yak,...sedikit lagi bu. Suara-suara itu, suara suara itu....aku kenal semua, aku capek, aku nggak kuat lagi..ohh..ohh Ya Allah bantu akuuuuu..!!! Tiba-tiba ada suara asing yang bukan suara orang-orang itu, tiba-tiba ada suara bayi yang Oeee...oeee. Anakku, Cintaku, Manjaku, Pujaanku...kau telah lahir, kau telah lahir, Alhamdulillahh, Alhamdulillah....terima kasih Ya Allah.

Suamiku seakan lepas dari ketertegunan, dia ciumin aku, dia usap-usap kepalaku, dan segera dia mengambil kamera yang sudah disiapkan untuk mengabadikan momen itu, tapi karena kesibukan menentramkan aku dia lupa untuk mengambil gambar, dan baru tersadar setelah anakku lahir. Segera dia mengambil gambar si kecil yang sedang diurus oleh dokter, mulai dari memutus tali pusarnya sampai membersihkannya. Anakku, cintaku, manjaku, pujaanku, kau telah lahir ke dunia. Hari itu, tgl. 2 Desember 2006, telah lahir seorang bayi laki-laki dengan berat 3.150gr, panjang 49cm, dalam keadaan normal, sehat wal afiat di rumah sakit Pondok Indah Jakarta Selatan.

MENCOBA MEMBUAT BLOG

Setelah membaca beberapa blog, kok asyikk ya bisa menulis, wah..bisa meneruskan hobi lamaku yang luamaaa rasanya kutinggalkan. Kalau gak salah waktu itu masih SMP (aku punya sedikit masalah dengan daya ingat, tapi belum lupa ingatan sih), aku suka menulis, tapi pakai mesin ketik,hi..hi, kalau salah terus di tip ex. Kalau ganti pemikiran, harus ganti kertas meskipun mungkin sudah hampir setengah halaman menulis. Tulisanku, tulisan anak SMP yang cerita banyak tentang teman, sahabat, cerita anak-anak, atau cerita tentang cinta-cinta monyet.
Tulisan itu aku kirimkan ke majalah-majalah, seperti majalah 'Hai' sampai majalah 'Femina', dengan disertai perangko balasan. Karuan saja tulisan-tulisanku itu selalu dikembalikan, karena tidak layak muat, hi..hi..hi, mungkin susah dimengerti ya, atau memang tidak sesuai dengan medianya.

Dulu, saking gemarnya menulis, aku juga suka menulis surat ke sahabat pena, dan mempunyai beberapa sahabat pena yang menulis sampai beberapa tahun lamanya, tapi nggak ada kabarnya lagi setelah biasanya mereka pindah alamat, setelah bertemu langsung atau sekedar malas berhubungan lagi. Kalau yang setelah bertemu langsung biasanya jadi malas menulis lagi ke aku karena mungkin aku tidak sesuai seperti yang ada di bayangan mereka atau sebaliknya.

Makanya,sekarang aku mencoba membuat blog, hanya sekedar meneruskan keinginan menulis yang dulu nggak pernah tuntas, dan nggak pernah dapat feedback apa-apa.Rasanya di otakku sering berkecamuk banyak hal, yang ingin saya bicarakan, tapi kurang tempat untuk curhat. He..he, jadilah aku menanyakan keanakku caranya membuat Blog. Bahkan nama blogspot 'ibu-ibu gendut beranak tiga' pun anakku yang ke dua, sekenanya menjawab ketika aku menanyakan sebaiknya apa nama blogspot mama ini? Setelah aku pikir-pikir kok pakai kata gendut, takutnya menyinggung perasaan orang, jadi ya nggak aku pakai.