Selasa, 26 Februari 2008

ANAKKU, CINTAKU, MANJAKU, PUJAANKU...

Kata-kata itu yang sering kuucapkan ketika aku sedang 'ngudang' anak-anakku, terutama ketika mereka masih kecil. Ditya, Vidya dan Jibran. Aku melahirkan Ditya pada usia 23th, Vidya pada 32th dan Jibran pada usia 41th.

Betul, aku melahirkan anakku yang ke tiga di usia 41th, usia yang sudah tidak muda lagi untuk melahirkan. Phuii, teringat kembali bagaimana pada jam 1.00 dini hari perutku mulai terasa melilit dan aku melihat bercak pada baju dalamku darah pada saat ke toilet. It's time,kataku. Bergegas aku mengumpulkan tas-tas yang sudah aku isi seperlunya keperluan bersalinku. Baju2 daster, jarit, gurita dll. Juga tas yang berisi keperluan bayiku, baju2nya, popok, bedak dll. Oh ya tidak lupa selimut kecil untuk mendekap hangat jagoanku yang akan menemani hari-hariku di usiaku yang sudah di atas 40an.

Aku dan suami bergegas menuju RS yang jaraknya hanya sekitar 1 km dari rumahku. Di situ rupanya sudah ada kakak perempuanku dengan suami dan anaknya yang sudah menunggu. Darimana mereka tau? rupanya dari ibuku yang sesaat sebelum aku berangkat ke RS sempat aku telpon untuk minta do'a restu. Sementara Ditya dan Vidya aku minta tetap tinggal di rumah saja, setelah aku minta mereka untuk mendo'akan mamanya.

Aku dibawa ke ruangan khusus untuk menunggu waktu persalinan. Pikiranku campur aduk, bagaimna kalau aku nggak kuat? bagaimana anak laki-lakiku yang akan lahir ini? normalkah? lengkapkah? benar-benar laki-lakikah seperti hasil USG yang dikatakan oleh ginekologku? Diaantara rasa sakit yang makn kerap dan makin tinggi intensitas sakitnya, aku berusaha pasrah. NamaMu selalu kupanggil, Ya Allah, beri aku kekuatan untuk melahirkan anugrahMu ini ke dunia, Ya Allah, Ya Allah, Astagfirullah..Astagfirullah...sambil aku mohon ampun atas dosa-dosaku selama ini yang mungkin akan mempersulit proses melahirkan.

Ginekologku sempat menanyakan padaku saat kandunganku
berusia 8bl. Bagaimana aku ingin melahirkan, dengan operasi atau normal. Pertanyaan ini dilontarkan entah karena memang usiaku sudah termasuk usia resiko tinggi untuk melahirkan, ataukah hanya karena trend sekarang orang ingin melahirkan dengan cara operasi, sehingga bisa mengurangi rasa sakit pada waktu melahirkan. Aku ingat, pada waktu aku melahirkan anak yang ke dua dulu (ginekolognya sama), dia bahkan menolak saat aku menanyakan kemungkinan untuk melakukannya dengan operasi. Lalu kenapa sekarang dia malah menawarkan kemungkinan operasi? Dengan tegas aku menjawab, bahwa kalau bisa aku ingin dengan cara normal saja, supaya lengkap ketiga-tiganya aku lahirkan dengan cara normal.

Karena semangat itu, kali ini aku menikmati sekali rasa sakit yang ditimbulkan desakan bayiku yang ingin segera keluar, tiap waktunya, tiap menitnya. Sambil kuelus perutku yang buncit dan kubisikkan, adik...sabar yaa sayang, sebentar lagi kamu akan ketemu mama, sebentar lagi kamu akan melihat dunia ini sayangku.

Rasa sakitnya makin terasa, aku mulai keringatan, kepanasan dan hh..hh..., mengapa dokternya belum juga datang Sus, tanyaku ke suster yang menunggui. Dia menjawab kalau sudah menghubungi dokter dan sebentar kemudian akan segera datang. Suamiku juga mencoba menenangkan aku, dia elus punggungku yang wuiihh rasa sakitpun makin menjadi, diawali dari perut, kemudian terus melilit ke bagian bawah dan melingkar ke bagian belakang. Sehingga rasanya semua sumsum tulang belakangku seperti disedot oleh sedotan debu yang sangat kuat. Sakittt sekali.Ya Allah..Ya Allah, Astagfirullahaladzim,..Astagfirullahaladzim. Kadang diantara hitungan menit rasa sakit aku bisa terlelap tidur, saking sakitnya menguras tenagaku. Kali ini aku tidak bereriak-teriak menahan sakit,...seperti waktu melahirkan Ditya dan Vidya. Kali ini aku lebih pasrah...selain mungkin sudah tidak punya nafas lagi untuk berteriak.

Tiba-tiba suster datang untuk mengganti bajuku dengan baju untuk persalinan, dan kemudian aku dipindah dengan mendorong tempat tidurku ke ruang persalinan. Ruangannya besar sekali, tapi hanya ada satu tempat tidur khusus untuk persalinan dan seperangakat sofabed. Suami dan kakak perembuanku tetap ikut menunggui aku, sambil sekali-kali menghibur aku untuk berdo'a dan sabar. Dokterku sudah datang dan memeriksa kembali kondisi kesiapan persalinanku. Aku melihat wajahnya yang tanpa ekspresi seperti biasanya. Mungkin bagi dia, ini hanya salah satu persalinan diantara ratusan persalinan yang ditanganinya. Tapi bagi aku? ini persalinan ketigaku, dan ini persalinan yang akan memberiku anak laki-laki seperti yang aku do'akan selama ini.

Pada kesempatan naik Haji bersama suamiku, di depan Multazam aku khusuk berdo'a, Ya Allah,jika Kau mengijinkan, Aku ingin mempunyai anak lagi.Aku ingin mengandung lagi, Ya Allah, dan juga jika Kau mengijinkan, aku ingin anak itu laki-laki. Ya Allah, dengarkanlah do'aku. Aku tahu permintaanku waktu itu agak sedikit tidak mungkin mengingat usiaku yang tidak lagi muda. Tapi mintalah kau padaNya, bukankah Dia Maha Pemurah? Alhamdullilah..Subghanallah, sebulan aku pulang dari Makkah, aku sudah tidak mendapat menstruasi lagi. Aku hamil,...aku hamil, teriakku ketika aku melihat dua garis pada test pack untuk kehamilanku.

Kehamilan yang ketiga ini terasa begitu membuatku tidak berdaya, aku muntah-muntah tiap harinya, tidak mau makan apa-apa. Kondisi itu berlangsung sampai usia kandungan 7 bulan. Tiap hari aku hanya tinggal di atas tempat tidur, karena setiap kali aku turun aku akan limbung, puyeng dan kemudian muntah. Ngidam apa?? tanya teman-teman yang sempat menjengukku, aku nggak tau ngidam apa, rasanya gak kepingin apa-apa. Dulu awal-awal kehamilan sempat pingin rujak gobet buatan temanku. Setelah kuberitau dia, dengan senang hati aku dikirimin rujak gobet buatannya yang enak sekali. Aduh,..terima kasih banget ya telah susah payah membuatkan rujak gobet untukku dan kemudian mengantarkannya naik angkot, karena kami sudah tidak bertetangga lagi.

Kembali aku merasakan rasa sakit yang makin menjadi, Dok...saya sudah tidak kuat lagi ....kataku. Ugghh sakitnya, sakitnya, ampun ya Allah, kuatkan aku, kuatkan aku.Laa illah ha Illallah,..Laa illah ha Illallah,..aku panggil-panggil namaMu yang satu. Rasanya panas, aku megap-megap, napasku rasanya sudah putus, rasanya nggak kuat lagi. Dokter melihat keadaan itu segera memberi aku oksigen dan mengatakan harus memperbaiki kualitas sakitnya. Apa...? menurut dokter itu kurang sakit, sehingga tidak cukup kuat untuk maju dan merobek rahimku. Karena takut aku kehabisan napas dan tenaga, maka dokter memutuskan untuk segera menginduksi aku. Rasa sakit yang kurasakan ternyata makin hebat lagi, makin hebat dan, aku sudah tidak ingat semuanya lagi, suara suamiku, suara dokterku, suara kakak perempuanku, suara suster-suster yang membantu. Semua berdengung seperti lebah, aku tidak tau lagi, aku tidak ingat lagi. Yang aku ingat aku harus mengejan, sekuat tenaga, sekuat tenaga,...yak, yak,...sedikit lagi bu. Suara-suara itu, suara suara itu....aku kenal semua, aku capek, aku nggak kuat lagi..ohh..ohh Ya Allah bantu akuuuuu..!!! Tiba-tiba ada suara asing yang bukan suara orang-orang itu, tiba-tiba ada suara bayi yang Oeee...oeee. Anakku, Cintaku, Manjaku, Pujaanku...kau telah lahir, kau telah lahir, Alhamdulillahh, Alhamdulillah....terima kasih Ya Allah.

Suamiku seakan lepas dari ketertegunan, dia ciumin aku, dia usap-usap kepalaku, dan segera dia mengambil kamera yang sudah disiapkan untuk mengabadikan momen itu, tapi karena kesibukan menentramkan aku dia lupa untuk mengambil gambar, dan baru tersadar setelah anakku lahir. Segera dia mengambil gambar si kecil yang sedang diurus oleh dokter, mulai dari memutus tali pusarnya sampai membersihkannya. Anakku, cintaku, manjaku, pujaanku, kau telah lahir ke dunia. Hari itu, tgl. 2 Desember 2006, telah lahir seorang bayi laki-laki dengan berat 3.150gr, panjang 49cm, dalam keadaan normal, sehat wal afiat di rumah sakit Pondok Indah Jakarta Selatan.

Tidak ada komentar: